Kamis, 22 Desember 2016

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
DI INDONESIA
Untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah pendidikan
Dosen : Dr. Erlina Wiyanarti,M.Pd





Oleh:
MUHAMAD PAHRUROJI
1507189



Departemen Pendidikan Sejarah
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung
2016
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
DI INDONESIA
            Setelah melakukan kegiatan observasi di Museum Pendidikan Nasional yang tepatnya berada di kampus Universitas Pendidikan Indonesia,Bandung. Saya dapat mengklasifikasikan perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia,sejak masa pra-aksara sampai dengan pendidikan pada masa sekarang,saat memasuki museum tersebut kita akan merasakan seolah-olah kita sudah ribuan tahun hidup,karena saat memasuki museum itu,yang kita akan melihat biorama yang menjelaskan perkembangan pendidikan sejak praaksara sampai modern dengan posisi atau letak yang sesuai dengan periodisasinya. Maka saya akan menjelaskan kembali dari hasil observasi saya dan mengembangkannya dengan apa yang telah saya pelajari di perkuliahan-perkuliahan sejarah.
1.      Pendidikan Pada Masa Pra-Aksara
Manusia tidak pernah lahir dalam keadaan penuh dengan kecerdasan seperti sekarang, namun mengalami perkembangan. Mengacu pada buku berjudul “Origin of The Human” yang disusun oleh Charles Darwin , manusia berevolusi dari fisiknya yang mirip dengan struktur anatomi primata menjadi struktur manusia seutuhnya dengan kapasitas otak dan kemampuan masa kini. Pada masa pra-aksara ini tentunya manusia saat itu masih belum mengenal tulisan,sehingga pengetahuannya masih belum efektif. Pendidikan pada masa praaksara dapat dikatakan sangat sederhana, karena pada masa inilah manusia pertama kalinya belajar tentang keterampilan untuk mempertahankan hidupnya,dimana manusia pada saat itu sangat tergantung pada alam dan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga mereka melakukan suatu pewarisan pendidikan yang dilakukan dalam keluarga,sebagai orang tua mereka mentransferkan pengetahuan kepada anaknya,misalnya anak perempuan di didik oleh ibunya dengan mengajarkan cara menguliti hewan,mengawetkan makanan dan cara mengolah makanan tersebut. Sedangkan anak laki-laki diajarkan oleh bapaknya mengenai cara-cara memburu hewan,membuat perkakas dan lain sebagainya. Hewan yang diburu tentunya bermacam-macam ada hewan darat dan ada juga hewan laut,sehingga untuk memburu hewan tersebut dibutuhkan suatu alat bantu.
Peralatan pada saat itu masih sederhana,dimana kita lihat dari hasil kebudayaan yang dihasilkan masyakat prasejarah,mulai dari masa paleolithikum,mesolithikum,neolithikum, megalithikum dan masa perundagian. Pada masa paleolithikum,mesolithikum,neolithikum dan megalithikum alatnya masih sederhana,dimana alatnya terbuat dari kayu,tulang dan umumnya adalah batu-batu,misalnya kapak genggam,kapak penetak,kapak perimbas,kapak persegi dan yang lainnya. Pada masa Neolithik perkakas batu sudah diasah,sudah menetap,melakukan food producing dan bercocok tanam tingkat. Dan pada masa perundagian mengalami suatu perkembangan yang pesat dalam hal kebudayaan manusia saat itu,dimana pada masa perundagian sudah mengenal peralatan dengan bahan logam sehingga pendidikan sudah diarahkan untuk menguasai pembuatan beberapa benda logam,seperti gerabah berbahan perunggu, kapak perunggu, bejana, nekara, moko dan lain-lain.
Model pendidikannya pun tidak sama seperti sekarang,dimana pada saat itu model pendidikannya berbentuk aplikatif langsung kelapangan atau alam dan diturunkan secara turun temurun ke generasi selanjutnya.
2.      Pendidikan Pada Masa Hindu-Budha Di Indonesia
Indonesia pada masa Hindu-Budha  ini menerima pengaruh dari Negara India saat ini,baik pengaruh Agama,pengetahuan dan juga kebudayaannya. Namun corak yang dipengaruhi oleh pengetahuan ini membedakan antara di India dan Nusantara pada saat itu,misalnya di India kedua Agama itu saling bermusuhan,namun di Nusantara kedua agama itu saling berdampingan,contohnya candi-candi yang ada di daerah Jawa,misalnya candi Prambanan dimana dalam komplek candi Prambanan itu terdapat peninggalan yang bisa dikatakan bahwa kedua agama itu saling berbaur dan berdampingan.
Di masa kerajaan Hindu-Buddha, candi menjadi pusat pendidikan saat itu, hal tersebut dapat dilihat dalam relief yang ada di beberapa candi di nusantara. pendidikan pada masa hindu- budha identik dengan indianisasi, metode pembelajarannya dikenal dengan sistem “Guru-Kula”, sebagaimana yang terukir pada dinding candi Borobudur (Buddhis).
Dalampendidikan pada masa berkembangnya agama hindu, tidak semua masyarakat dapat memperoleh pendidikan yang diterapkan saat itu, hal tersebut disebabkan karena didalam agama hindu mengenal suatu sitem stratifikasi sosial atau yang biasa disebut sebagai sistem kasta. Pendidikan yang diterapkan pada masa ini disesuaikan dengan sistem kasta, sistem kasta yang paling tinggi adalah kasta Brahmana dimana kasta inilah yang menguasai kitab Weda . Kitab weda merupakan kitab atau pedoman bagi pemeluk agama hindu, anak- anak dari kalangan Brahmana diberikan pendidikan untuk mempelajari kitab weda, tujuan pendidikan yang dilakukan oleh kaum Bramana tersebut tidak lain adalah untuk medapatkan regenerasi Brahman yang ahli dalam kitab weda dan untuk mencetak Brahman-Brahman yang mempunyai budi pekerti yang baik dan mampu untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas. Kasta yang lain tidak diperbolehkan untuk mempelajari kitab Weda tersebut,pendidikan untuk kasta Ksatria lebih ditekankan kepada teknik perang atau militer dan ilmu pemerintahan atau politik, sedangkan pendidikan yang didapat oleh kasta waisya diajarkan bagaimana cara berdagang,maka diajarkan suatu bahasa dan berhitung guna keperluan berdagang. Sedangkan pendidikan untuk kasta Sudra sangat terbatas dimana kasta ini pendidikan hanya mengenai tani dan untuk melayani kasta atas. Namun dalam pengkastaan di Indonesia kurang mencolok seperti halnya di India,contoh kasus di Bali.
Agama Hindu dan Budha  sangat menekankan kepada pengetahuan,terutama agama hindu,dimana pada prasasti Yupa yang berada di Kutai merupakan awal dari sejarah Indonesia,artinya pada masa ini Nusantara pada saat itu sudah mengenal tulisan dan tulisan adalah awal dari perubahan pengetahuan yang sangat vital. Dalam konsep dewa yang diimani oleh agama Hindupun ada suatu dewa yang memegang peran dewa ilmu pengetahuan yaitu Dewa Ganesha,dimana wujud dari dewa Ganesha tersebut mempunyai filosofi mendalam menyangkut pendidikan,salah satunya tangannya yang membawa kapur/alat tulis yang melambangkan dewa ganesha adalah dewa yang pandai menuliskan pengetahun dan belailainya yang sedang menyedot cawan,menurut mitologi mangkuk tersebut berisi cairan ilmu pengetahuan yang tidak akan habis walau dihisap terus menerus oleh Ganesha.
Dalam pelaksanaan suatu pendidikan saat itu,selain tempatnya di candi ada yang menyatakan istilah Karsyan,Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan orang-orang yang mengasihkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala. Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja. Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.
Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Masa hindu-budha mengalami sebuah kemajuan di nusantara dimana agama hindu-budha ini membawa kebudayaan menulis,yang awalnya menulis dibatu dan setelah mengalami perkembangan penulisan dilakukan di daun lontar.
Sedangkan untuk lebih jelasnya pendidikan agama Budha,pertamanya itu disebarkan oleh Sidharta Gautama di India,yang kemudian terpecah menjadi dua aliran,yaitu : Mahayana dan Hinayana,yang berkembang di Nusaantara paling banyak yaitu Budha Hinayana. Agama budha ini berkembang pada masa kerajaan Sriwijaya di Sumatra, dan pada masa Wangsa Syailendra di pulau jawa,
Menurut ajaran Budhisme,Manusia hidup dalam penderitaan yang disebabkan karena nafsu duniawi,manusia dalam hidup ini untuk mengusir penderitaan,mencari kebahagian yang abadi yaitu nirwana . dalam pendidikan budha ini lebih ditekankan  kepada norma dan perilaku,contohnya dalam 8 ajarannya :
a.       Berpandangan yang benar     
b.      Mengambil keputusan yang benar
c.       Berkata yang benar
d.      Bertindak yang benar
e.       Berkehidupan yang benar
f.        Berdayaupaya yang benar
g.      Melakukan meditasi yang benar
h.      Konsentrasi kepada hal-hal benar.
Sehingga jika kita analisis tujuan pendidikan pada masa Hindu-budha ini lebih identik dengan tujuan hidup.manusia hidup untuk mencapai moksa bagi agama Hindu,sedangkan menurut agama Budha manusia hidup untuk mencapai nirwana. Karena itu secara umum tujuan akhirnya adalah mencapai moksa atau nirwana.
3.      Pendidikan Pada Masa Islam
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Nusantara sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia dan melakukan kontak dengan nusantara sejak abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.
Sistem pendidikan islam di Nusantara adalah suatu lanjutan dari sistem pendidikan pada masa Hindu-Budha, Pola bisa bersifat kontinyuiti tetapi substansi materi pembelajaran tentu mengalami perubahan yakni yang tadinya yang di ajarkan substansi agama Hindu dan Budha, maka pada masa perkembangan pengaruh budaya Islam maka materinya adalah agama Islam. dimana pada masa islam ini penyebaran Islam dilakukan dengan metode-motode dakwah/ceramah,contohnya seperti penyebaran islam oleh Walisongo, salah satu metode pendidikan untuk melakukan kontak dengan masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan sebelumnya,para walisongo melakukan sistem akulturasi dengan kebudayaan hindu-budha dalam segi penyeberannya tapi inti dalam pendidikannya tetap mengajarkan penddikan islam,misalnya dengan menggunakan wayang sebagai medianya.
Setelah mencapai perkembangan penyebaran agama islam,maka pada saat itu didirikan sarana belajar guna kebutuhan proses pendidikan. Dimana bangunan tersebut kita sebut masjid,yang fungsinya selain untuk tempat ibadah masjid juga dijadikan tempat untuk sarana belajar. Dari masjid inilah santri dikader ilmu-ilmu agama,beberapa masjid dibangun oleh para  penguasa maupun para wali (walisongo). Antara lain masjid agung banten,masjid demakdan masjid Menara kudus. Selain masjid,dalam sejarah pendidikan bercorak islam Indonesia,dikenal juga langgar, surau, rangkang,pondok pesantren,dan madrasah (meunasah). Adapun metode mengajar yang lajim dikembangkan adalah metode sorogan dan bandungan. Sedangkan pedoman dari pelajarannya yaitu alquran dan assunah.
Lembaga pendidikan Islam di wilayah Timur tengah pada masa klasik sebelum adanya madrasah antara lain adalah shuffah, kuttab/maktab, halaqah, majlis, masjid, rumah-rumah ulama, dan perpustakaan . Setiap lembaga pendidikan tersebut memiliki karakteristik masing-masing. Dari sekian institusi yang pernah ada tersebut, yang berkembang di Indonesia cenderung merupakan percampuran antara pola maktab, halaqah, masjid dan rumah-rumah ulama. Dan lembaga pendidikan di maksud adalah pesantren. Ada pendidikan yang levelnya di bawah pesantren yakni Langgar, Rangkang atau Surau yang pembentukannya lebih kepada
inisiatif sekelompok orang yang ingin anak-anaknya belajar membaca Al Qur`an yang levelnya masih rendah kadang-kadang diberikan pelajaran tentang tauhiditas dan fiqh yang levelnya masih rendah pula. Sedangkan di Pesantren anak-anak mendapat pelajaran agama yang lebih mendalam,seperti ilmu tafsir alquran dan mempelajari hadist-hadist,juga mempelajari kitab-kitab kuning (kitab klasik) yang mengkaji tentang tauhiditas,fiqh dan tasauf yang mendalam.
Adapun cara mereka menulis yaitu dengan sebuah alat tulis (kalam ) yang bahannya ada yang terbuat dari bulu angsa ataupun bulu ayam,kadang pakai kayu,kalua sekarang ujungnya menggunakan kaleng untuk menyerap mangsi. Mangsi adalah cairan tinta yang terbuat dari ketan hitam atau bisa juga menggunakan beras,beras tersebut disangray (digoreng tanpa minyak) hingga gosong dan tahap selanjutnya penyampuran dengan air panas,dan dicampuri minyak,itulah cara membuat tinta yang sederhana,karena daerah saya termasuk daerah penghasil tinta yaitu gentur. Biasanya kalam yang menggunakan mangsi tersebut digunakan untuk ngerab atau ngalogatan kitab kuning. Menurut kakek yang mesantren dulu,saat sedang mengaji,dimana pengajian tersebut dilaksanakan di rumah panggung yang terbuat dari bamboo dan kayu,guru yang mengajar berada di depan murid-murid,karena diruangannya padat murid-murid (santri) menulis dikolong rumah. Pada saat pengajian malam,karena belum ada listrik para santri menggunakan lentera (sekarang disebut lentera gentur),dimana bahannya itu terbuat dari kaleng susu dan kaca yang diperekat dengan patri,dan sumbunya terbuat dari lamak (baju bekas) yang diisi minyak tanah atau minyak kelapa. Lentera ini juga bisa digunakan untuk membuat tinta,dimana diatas api disediakan wadah dari kaleng yang berisi bahan-bahan untuk membuat mangsi tersebut.

4.      Pendidikan Pada Masa Kolonial Barat
Nusantara merupakan wilayah yang kaya akan rempah-rempah,dimana pada saat itu komoditi rempah-rempah sangat dibutuhkan di Eropa,sehingga Eropa melakukan suatu pencarian pusat dari rempah-rempah tersebut,didorong dengan 3 tujuan utamanya yaitu Gold,Glory dan Gospel. Akhirnya bangsa barat memasuki kawasan Nusantara pada saat itu,diawali oleh bangsa Portugis.
A.    Portugis
Dalam tahun 1498 Vasco de Gama tiba di India,dan dalam tahun 1509 kapal-kapal Portugis yang pertama muncul di Bandar Malakka. Akibat suatu perselisihan maka dalam tahun 1511 Malakka digempur oleh orang-orang Portugis dan kemudian dijadikan pangkalan dagang mereka.
Dengan didudukinya Malakka oleh orang Portugis itu maka ditanamlah benih-benih agama Katholik yang pertama didaerah Nusantara. Dari Malakka ini orang Portugis melanjutkan ke Maluku,dan berhasil mendapatkan pangkalan di Ternate pada tahun 1522. Dengan pendudukan orang Portugis di Maluku,sama halnya dengan di Malakka,Portugis melakukan misi penyebaran agama Katholik. Dengan bantuan St. Franciscus Xaverius maka perluasan pengaruh Portugis sekaligus agama katholik menyebar bahkan sampai ke kepulauan Nusa Tenggara dan Sulawesi Utara. Penyebaran agama Kristen ini dibarengi dengan gerakan sosial,yaitu meningkatkan kesehatan rakyat, menyelenggarakan pendidikan,dan sebagainya. Penguasa portugis lainnya di Maluku yang bernama Antonio Galvano,yang mendirikan sekolah Seminary untuk anak-anak terkemuka Bumiputera. Selain pelajaran Agama,mereka diajarkan juga membaca, menulis, dan berhitung dan diajarkan pula Bahasa latin.
Pendudukan Portugis di Nusantara bagian timur tidak bertahan lama,karena pada akhirnya Belanda dapat mengusirnya,dan kemudian mengambil alih harta kekayaan gereja Katholik,termasuk lembaga pendidikannya, dan diserahkan kepada misi Zending Protestan.
B.     VOC dan Pemerintah Hindia Belanda
Pada tahun 1596 Belanda pertama kali mendarat di teluk Banten dibawah pimpinan Cornelius de Houtman. Kemudian mereka menelusuri ke timur Banten, sehingga sampai di Jayakarta,dan kemudian dirubah namanya menjadi Batavia,dan pada tahun 1602 di dirikanlah suatu perkumpulan yang disebut dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Sebagai perusahaan dagang,wajarlah VOC memiliki tujuan komersial,yaitu mencari kuntungan sebesar-besarnya bagi kepentingan Belanda pada umumnya dan pemegang saham khususnya. Pada abad ke 17 dan 18 di Negeri Belanda segala kegiatan yang menyangkut pendidikan dilaksanakan oleh lembaga keagamaan. Pemerintah tidak ikut campur dalam penyelenggaraannya,sehingga gereja memiliki kebebasan untuk menyelenggarakan pendidikan. Namun di Indonesia VOC tidak menginginkan Gereja (lembaga keagamaan) memiliki wewenang yang besar dalam mengatur masyarakat di daerah-daerah yang mereka kuasai. Sehingga kegiatan Gereja merupakan bagian dari kegiatan VOC.jadi perluasan agama Kristen Protestan disebarkan oleh VOC,sesuai dengan intruksi tahun 1617,supaya penyelenggaraan VOC mengembangkan agama Kristen dan mendirikan sekolah-sekolah untuk membendung agama Katholik.
Adapun jenis-jenis pendidikan pada masa VOC diantaranya. (1)Pendidikan Dasar,didirikanlah sekolah dasar pertama yang bernama Batavische School pada tahun 1617,dan pada 1630 didirikan Burgerschool (sekolah warga negara),Sekolah-sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik budi pekerti. (2)sekolah latin,Bahasa latin pada abad ke-17 merupakan Bahasa ilmiah di Eropa,sehingga munculah gagasan membuat sekolah jenis tersebut di Batavia. Sekolah itu dibuka pada tahun 1642,namun ditutup pada tahun 1656. (3)Seminarium Theologica,pada tahun 1745 VOC mendirikan sekolah ini untuk mendidik calon-calon pendeta,dimana yang menjadi gurunya adalah seorang pendeta. (4) Akademi Pelayaran,sekolah ini didirikan pada tahun 1743 dengan maksud untuk menjadikan calon perwira pelayaran,namun tahun 1755 sekolah ini ditutup karena terlalu besar biayanya,sehingga peminatnya sedikit.
Pada akhir abad 18 perusahaan VOC mengalami kebangkrutan akhirnya VOC dibubarkan pada tahun 1799. Selanjutnya pemerintah Belanda mengambil-alih kekuasaan. Dalam politik pendidikannya, Belanda tidak memperlihatkan demokratisasi di dalam pendidikan, karena tidak semua orang diberi kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama.Sistemnya disebut: Three tract system, yaitu:
a. Pendidikan untuk golongan bawahan atau rakyat jelata
b. Pendidikan untuk golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda
c. Pendidikan untuk golongan bangsa Belanda, bangsa Eropa dan bangsa Timur lainnya (Hardiyanti,2011,hlm.6).
Dalam sistem persekolahan masa Hindia Belanda,terdapat tiga jenjang sekolah,yaitu sekolah rendah, sekolah menengah dan sekolah tinggi. Jalur sekolah untuk anak Belanda adalah Europese Lagere School (ELS) ke Lycea, HBS V dan atau HBS III. Dari sekolah Lycea dan HBS V dapat melanjutkan ke sekolah tinggi (THS,GHS atau RHS). Jalur sekolah bagi anak Belanda ini dapat juga dimasuki anak Bumiputera dan Tionghoa yang terpilih.
Jalur sekolah untuk Bumiputera adalah HIS dengan lama belajar tujuh tahun,setelah itu mereka dapat melanjutkan ke MULO,AMS atau ke sekolah kejuruan Eropa dan Kweekschool. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya mereka memilih jalur HCS (Hollandsche Chineesche School) dengan Bahasa pengantar Belanda. Sekolah untuk Bumiputera rendahan yaitu Sekolah Desa (Volkschool) dan sekolah kelas II (Tweede Inlandsche School). Dari sekolah ini mereka dapat melanjutkan ke Schkale School (sekolah peralihan) agar dapat melanjutkan ke MULO, AMS, dan sekolah tinggi.
Atlas adalah media dan sumber belajar yang penting dalam proses pembelajaran pada masakolonial hindia-belanda tepatnya pada abad ke 20,yang diperuntukan bagi tingkat MULO dan tingkat kejuruan AMS dan HBS.
Pada tahun 1900an Belanda menerapkan kebijakan atau politik etis,yang dimana slogannya Edukasi,irigasi dan Imigrasi. Dalam pelaksaan poin Edukasi,Belanda banyak membuat sekolah-sekolah berorientasi barat. Namun kebijakan ini banyak menimbulkan kontra dari masyarakat,diantaranya masyarakat yang memeluk ajaran islam. Maka untuk membendung ajaran agama protestan ini,maka pada tanggal 18 November 1912 berdiri lembaga pendidikan Bumi Putra yang bernama Muhammadiyah,K.H Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. Selanjutnya pada tanggal 13 Juli 1922,R.M Suwardi Suryaningrat  atau kita lebih mengenalnya dengan nama Ki Hajar Dewantara mendirikan lembaga pendidikan yang bernama TAMAN SISWA,dengan memiliki dasar keyakinan akan kodrat alam, kemerdekaan, kebangsaan, kebudayaan dan kemanusiaan.adapun tujuan pelaksaan pendidikan Taman Siswa yaitu untuk mendidik anak agar percaya kepada kekuatan sendiri tidak menggantungkan diri kepada kekuatan orang lain, dan atas dasar budaya bangsa sendiri. Adapun tingkat sekolah di Taman Siswa,diantaranya Taman Indria,Taman Anak, Taman Dewasa, Taman Madya dan Taman Guru. Selanjutnya berdiri pula lembaga pendidikan INS (Indonesia Nederlandsce school) pada tahun 1926 oleh Mohamad Syafei di Kayutaman Sumatra Barat.
C.     Jepang
Jepang memperkenalkan militerisme dengan landasan ideal dalam pemerintahannya di Indonesia. Landasan itu ialah kemakmuran bersama Asia Timur Raya berpusat di Jepang,Manchuria dan China. Dalam menyelenggarakan pendidikan,semua sekolah harus dipadukan dan terbuka,serta dimulai dengan sekolah rakyat (Kokumin Gakko) selama 6 tahun,SMP (Koto Chu Gakko) 3 tahun dan Sekolah Menengah Tinggi (Kogya Semmon Gakko) selama 3 tahun. Pada masa pendudukan jepang juga didirikan Sekolah Pelayaran dan Sekolah Pelayaran Tinggi.
Selama masa Jepang ini diskriminasi menurut golongan penduduk,keturunan, dan agama ditiadakan yang semula diterapkan oleh pemerintahan Belanda. Pendidikan pada masa Jepang ini, tujuan pendidikan bukan untuk memajukan bangsa Indonesia, tetapi mendidik anak-anak untuk dapat menunjang kepentingan perang Jepang melawan sekutu.
5.      Pendidikan Pasca Kemerdekaan sampai Sekarang
Berbicara pendidikan tidak terlepas dengan kurikulum dimana pada pelaksaannya di Indonesia banyak mengalami perubahan kurikulum dari awal revolusi sampai sekarang. Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan,Menteri Pendidikan,Pengajaran dan Kebudayaan,Ki Hajar Dewantara (penggagas motto yang sangat dikenal dan dijadikan motto pendidikan Indonesia yaitu “Tut Wuri Handayani”) mengeluarkan “intruksi umum” yang menyerukan kepada para guru supaya membuang jauh-jauh sistem pendidikan colonial dan mengutamakan patriotisme,secara rinci bunyi intruksi umum tersebut adalah :
a.       Pengibaran “sang merah putih” setiap hari dihalaman sekolah
b.      Menyanyikan lagu kebangsaan  Indonesia Raya
c.       Menghentikan pengibaran bendera Jepang dan menghapuskan lagu Kimigayo
d.      Menghapuskan pelajaran Bahasa Jepang,serta segala upacara yang berasal dari Pemerintah Balatentara Jepang
e.       Memberi semangat kebangsaan kepada semua murid.
Adapun pergantian kurikulum sejak tahun 1947 sampai sekarang tahun 2013 sebagai berikut,tahun 1947 (Rencana Pelajaran),tahun 1952 (Rencana Pelajaran Terurai), Kurikulum 1964 (Rencana Pendidikan Sekolah Dasar), Kurikulum 1968 (Kurikulum Sekolah Dasar),Kurikulum 1973 (Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), tahun 1975 (Kurikulum Sekolah Dasar), kurikulum 1984, kurikulum 1994, tahun 1997 (Revisi Kurikulum 1994), tahun 2004 ( Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi), tahun 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan yang sekarang sedang diaplikasikan yaitu  Kurikulum 2013.

Itulah hasil dari observasi dari museum pendidikan nasional,untuk mengetahui lebih lanjut,silahkan untuk mengunjungi museum pendidikan nasional. Terimakasih.