PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
DI INDONESIA
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
sejarah pendidikan
Dosen
: Dr. Erlina Wiyanarti,M.Pd
Oleh:
MUHAMAD
PAHRUROJI
1507189
Departemen
Pendidikan Sejarah
Fakultas
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas
Pendidikan Indonesia
Bandung
2016
PERKEMBANGAN
PENDIDIKAN
DI
INDONESIA
Setelah melakukan kegiatan observasi
di Museum Pendidikan Nasional yang tepatnya berada di kampus Universitas
Pendidikan Indonesia,Bandung. Saya dapat mengklasifikasikan perkembangan
pendidikan yang ada di Indonesia,sejak masa pra-aksara sampai dengan pendidikan
pada masa sekarang,saat memasuki museum tersebut kita akan merasakan
seolah-olah kita sudah ribuan tahun hidup,karena saat memasuki museum itu,yang kita
akan melihat biorama yang menjelaskan perkembangan pendidikan sejak praaksara
sampai modern dengan posisi atau letak yang sesuai dengan periodisasinya. Maka
saya akan menjelaskan kembali dari hasil observasi saya dan mengembangkannya
dengan apa yang telah saya pelajari di perkuliahan-perkuliahan sejarah.
1. Pendidikan
Pada Masa Pra-Aksara
Manusia tidak pernah lahir dalam
keadaan penuh dengan kecerdasan seperti sekarang, namun mengalami perkembangan.
Mengacu pada buku berjudul “Origin of The
Human” yang disusun oleh Charles Darwin , manusia berevolusi dari fisiknya
yang mirip dengan struktur anatomi primata menjadi struktur manusia seutuhnya
dengan kapasitas otak dan kemampuan masa kini. Pada masa pra-aksara ini
tentunya manusia saat itu masih belum mengenal tulisan,sehingga pengetahuannya
masih belum efektif. Pendidikan pada masa praaksara dapat dikatakan sangat
sederhana, karena pada masa inilah manusia pertama kalinya belajar tentang
keterampilan untuk mempertahankan hidupnya,dimana manusia pada saat itu sangat
tergantung pada alam dan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga
mereka melakukan suatu pewarisan pendidikan yang dilakukan dalam
keluarga,sebagai orang tua mereka mentransferkan pengetahuan kepada
anaknya,misalnya anak perempuan di didik oleh ibunya dengan mengajarkan cara
menguliti hewan,mengawetkan makanan dan cara mengolah makanan tersebut.
Sedangkan anak laki-laki diajarkan oleh bapaknya mengenai cara-cara memburu
hewan,membuat perkakas dan lain sebagainya. Hewan yang diburu tentunya bermacam-macam
ada hewan darat dan ada juga hewan laut,sehingga untuk memburu hewan tersebut
dibutuhkan suatu alat bantu.
Peralatan pada saat itu masih
sederhana,dimana kita lihat dari hasil kebudayaan yang dihasilkan masyakat
prasejarah,mulai dari masa paleolithikum,mesolithikum,neolithikum, megalithikum
dan masa perundagian. Pada masa paleolithikum,mesolithikum,neolithikum dan
megalithikum alatnya masih sederhana,dimana alatnya terbuat dari kayu,tulang
dan umumnya adalah batu-batu,misalnya kapak genggam,kapak penetak,kapak
perimbas,kapak persegi dan yang lainnya. Pada masa Neolithik perkakas batu
sudah diasah,sudah menetap,melakukan food producing dan bercocok tanam tingkat.
Dan pada masa perundagian mengalami suatu perkembangan yang pesat dalam hal
kebudayaan manusia saat itu,dimana pada masa perundagian sudah mengenal
peralatan dengan bahan logam sehingga pendidikan sudah diarahkan untuk
menguasai pembuatan beberapa benda logam,seperti gerabah berbahan perunggu,
kapak perunggu, bejana, nekara, moko dan lain-lain.
Model pendidikannya pun tidak sama
seperti sekarang,dimana pada saat itu model pendidikannya berbentuk aplikatif
langsung kelapangan atau alam dan diturunkan secara turun temurun ke generasi
selanjutnya.
2. Pendidikan
Pada Masa Hindu-Budha Di Indonesia
Indonesia
pada masa Hindu-Budha ini menerima
pengaruh dari Negara India saat ini,baik pengaruh Agama,pengetahuan dan juga kebudayaannya.
Namun corak yang dipengaruhi oleh pengetahuan ini membedakan antara di India
dan Nusantara pada saat itu,misalnya di India kedua Agama itu saling
bermusuhan,namun di Nusantara kedua agama itu saling berdampingan,contohnya
candi-candi yang ada di daerah Jawa,misalnya candi Prambanan dimana dalam
komplek candi Prambanan itu terdapat peninggalan yang bisa dikatakan bahwa kedua
agama itu saling berbaur dan berdampingan.
Di
masa kerajaan Hindu-Buddha, candi menjadi pusat pendidikan saat itu, hal
tersebut dapat dilihat dalam relief yang ada di beberapa candi di nusantara.
pendidikan pada masa hindu- budha identik dengan indianisasi, metode
pembelajarannya dikenal dengan sistem “Guru-Kula”, sebagaimana yang terukir
pada dinding candi Borobudur (Buddhis).
Dalampendidikan
pada masa berkembangnya agama hindu, tidak semua masyarakat dapat memperoleh
pendidikan yang diterapkan saat itu, hal tersebut disebabkan karena didalam
agama hindu mengenal suatu sitem stratifikasi sosial atau yang biasa disebut
sebagai sistem kasta. Pendidikan yang diterapkan pada masa ini disesuaikan
dengan sistem kasta, sistem kasta yang paling tinggi adalah kasta Brahmana
dimana kasta inilah yang menguasai kitab Weda . Kitab weda merupakan kitab atau
pedoman bagi pemeluk agama hindu, anak- anak dari kalangan Brahmana diberikan
pendidikan untuk mempelajari kitab weda, tujuan pendidikan yang dilakukan oleh
kaum Bramana tersebut tidak lain adalah untuk medapatkan regenerasi Brahman
yang ahli dalam kitab weda dan untuk mencetak Brahman-Brahman yang mempunyai
budi pekerti yang baik dan mampu untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas.
Kasta yang lain tidak diperbolehkan untuk mempelajari kitab Weda
tersebut,pendidikan untuk kasta Ksatria lebih ditekankan kepada teknik perang
atau militer dan ilmu pemerintahan atau politik, sedangkan pendidikan yang
didapat oleh kasta waisya diajarkan bagaimana cara berdagang,maka diajarkan
suatu bahasa dan berhitung guna keperluan berdagang. Sedangkan pendidikan untuk
kasta Sudra sangat terbatas dimana kasta ini pendidikan hanya mengenai tani dan
untuk melayani kasta atas. Namun dalam pengkastaan di Indonesia kurang mencolok
seperti halnya di India,contoh kasus di Bali.
Agama
Hindu dan Budha sangat menekankan kepada
pengetahuan,terutama agama hindu,dimana pada prasasti Yupa yang berada di Kutai
merupakan awal dari sejarah Indonesia,artinya pada masa ini Nusantara pada saat
itu sudah mengenal tulisan dan tulisan adalah awal dari perubahan pengetahuan
yang sangat vital. Dalam konsep dewa yang diimani oleh agama Hindupun ada suatu
dewa yang memegang peran dewa ilmu pengetahuan yaitu Dewa Ganesha,dimana wujud
dari dewa Ganesha tersebut mempunyai filosofi mendalam menyangkut
pendidikan,salah satunya tangannya yang membawa kapur/alat tulis yang
melambangkan dewa ganesha adalah dewa yang pandai menuliskan pengetahun dan
belailainya yang sedang menyedot cawan,menurut mitologi mangkuk tersebut berisi
cairan ilmu pengetahuan yang tidak akan habis walau dihisap terus menerus oleh
Ganesha.
Dalam
pelaksanaan suatu pendidikan saat itu,selain tempatnya di candi ada yang
menyatakan istilah Karsyan,Karsyan
adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan orang-orang yang mengasihkan
diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk
yaitu patapan dan mandala. Patapan
memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk
sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang
ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan,
seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua
atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial.
Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit
atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu,
orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan
demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.
Istilah kedua adalah mandala,
atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala
merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah
kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan
mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh
hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut
dipimpin oleh dewaguru.
Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi
dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di
padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar
yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus
bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Masa hindu-budha mengalami sebuah kemajuan di nusantara
dimana agama hindu-budha ini membawa kebudayaan menulis,yang awalnya menulis
dibatu dan setelah mengalami perkembangan penulisan dilakukan di daun lontar.
Sedangkan untuk lebih jelasnya
pendidikan agama Budha,pertamanya itu disebarkan oleh Sidharta Gautama di India,yang
kemudian terpecah menjadi dua aliran,yaitu : Mahayana dan Hinayana,yang
berkembang di Nusaantara paling banyak yaitu Budha Hinayana. Agama budha ini
berkembang pada masa kerajaan Sriwijaya di Sumatra, dan pada masa Wangsa
Syailendra di pulau jawa,
Menurut ajaran Budhisme,Manusia
hidup dalam penderitaan yang disebabkan karena nafsu duniawi,manusia dalam
hidup ini untuk mengusir penderitaan,mencari kebahagian yang abadi yaitu nirwana . dalam pendidikan budha ini
lebih ditekankan kepada norma dan perilaku,contohnya
dalam 8 ajarannya :
a. Berpandangan yang benar
b. Mengambil keputusan yang benar
c. Berkata yang benar
d. Bertindak yang benar
e. Berkehidupan yang benar
f.
Berdayaupaya
yang benar
g. Melakukan meditasi yang benar
h. Konsentrasi kepada hal-hal benar.
Sehingga
jika kita analisis tujuan pendidikan pada masa Hindu-budha ini lebih identik
dengan tujuan hidup.manusia hidup untuk mencapai moksa bagi agama
Hindu,sedangkan menurut agama Budha manusia hidup untuk mencapai nirwana.
Karena itu secara umum tujuan akhirnya adalah mencapai moksa atau nirwana.
3. Pendidikan
Pada Masa Islam
Islam
sebagai sebuah pemerintahan hadir di Nusantara sekitar abad ke-12, namun
sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia dan melakukan kontak dengan nusantara
sejak abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat
internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina,
Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.
Sistem
pendidikan islam di Nusantara adalah suatu lanjutan dari sistem pendidikan pada
masa Hindu-Budha, Pola bisa bersifat kontinyuiti tetapi substansi materi
pembelajaran tentu mengalami perubahan yakni yang tadinya yang di ajarkan
substansi agama Hindu dan Budha, maka pada masa perkembangan pengaruh budaya
Islam maka materinya adalah agama Islam. dimana pada masa islam ini penyebaran Islam
dilakukan
dengan metode-motode dakwah/ceramah,contohnya seperti penyebaran islam oleh
Walisongo, salah satu metode pendidikan untuk melakukan kontak dengan
masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan sebelumnya,para walisongo
melakukan sistem akulturasi dengan kebudayaan hindu-budha dalam segi
penyeberannya tapi inti dalam pendidikannya tetap mengajarkan penddikan
islam,misalnya dengan menggunakan wayang sebagai medianya.
Setelah
mencapai perkembangan penyebaran agama islam,maka pada saat itu didirikan
sarana belajar guna kebutuhan proses pendidikan. Dimana bangunan tersebut kita
sebut masjid,yang fungsinya selain untuk tempat ibadah masjid juga dijadikan
tempat untuk sarana belajar. Dari masjid inilah santri dikader ilmu-ilmu
agama,beberapa masjid dibangun oleh para
penguasa maupun para wali (walisongo). Antara lain masjid agung
banten,masjid demakdan masjid Menara kudus. Selain masjid,dalam sejarah
pendidikan bercorak islam Indonesia,dikenal juga langgar, surau,
rangkang,pondok pesantren,dan madrasah (meunasah). Adapun metode mengajar yang
lajim dikembangkan adalah metode sorogan dan bandungan. Sedangkan pedoman dari
pelajarannya yaitu alquran dan assunah.
Lembaga
pendidikan Islam di wilayah Timur tengah pada masa klasik sebelum adanya
madrasah antara lain adalah shuffah, kuttab/maktab, halaqah, majlis, masjid,
rumah-rumah ulama, dan perpustakaan . Setiap lembaga pendidikan tersebut
memiliki karakteristik masing-masing. Dari sekian institusi yang pernah ada
tersebut, yang berkembang di Indonesia cenderung merupakan percampuran antara
pola maktab, halaqah, masjid dan rumah-rumah ulama. Dan lembaga
pendidikan di maksud adalah pesantren. Ada pendidikan yang levelnya di bawah
pesantren yakni Langgar, Rangkang atau Surau yang pembentukannya lebih kepada
inisiatif sekelompok orang yang ingin anak-anaknya belajar membaca Al Qur`an yang levelnya masih rendah kadang-kadang diberikan pelajaran tentang tauhiditas dan fiqh yang levelnya masih rendah pula. Sedangkan di Pesantren anak-anak mendapat pelajaran agama yang lebih mendalam,seperti ilmu tafsir alquran dan mempelajari hadist-hadist,juga mempelajari kitab-kitab kuning (kitab klasik) yang mengkaji tentang tauhiditas,fiqh dan tasauf yang mendalam.
inisiatif sekelompok orang yang ingin anak-anaknya belajar membaca Al Qur`an yang levelnya masih rendah kadang-kadang diberikan pelajaran tentang tauhiditas dan fiqh yang levelnya masih rendah pula. Sedangkan di Pesantren anak-anak mendapat pelajaran agama yang lebih mendalam,seperti ilmu tafsir alquran dan mempelajari hadist-hadist,juga mempelajari kitab-kitab kuning (kitab klasik) yang mengkaji tentang tauhiditas,fiqh dan tasauf yang mendalam.
Adapun
cara mereka menulis yaitu dengan sebuah alat tulis (kalam ) yang bahannya ada
yang terbuat dari bulu angsa ataupun bulu ayam,kadang pakai kayu,kalua sekarang
ujungnya menggunakan kaleng untuk menyerap mangsi. Mangsi adalah cairan tinta
yang terbuat dari ketan hitam atau bisa juga menggunakan beras,beras tersebut
disangray (digoreng tanpa minyak) hingga gosong dan tahap selanjutnya penyampuran
dengan air panas,dan dicampuri minyak,itulah cara membuat tinta yang
sederhana,karena daerah saya termasuk daerah penghasil tinta yaitu gentur.
Biasanya kalam yang menggunakan mangsi tersebut digunakan untuk ngerab atau
ngalogatan kitab kuning. Menurut kakek yang mesantren dulu,saat sedang
mengaji,dimana pengajian tersebut dilaksanakan di rumah panggung yang terbuat
dari bamboo dan kayu,guru yang mengajar berada di depan murid-murid,karena
diruangannya padat murid-murid (santri) menulis dikolong rumah. Pada saat
pengajian malam,karena belum ada listrik para santri menggunakan lentera
(sekarang disebut lentera gentur),dimana bahannya itu terbuat dari kaleng susu
dan kaca yang diperekat dengan patri,dan sumbunya terbuat dari lamak (baju
bekas) yang diisi minyak tanah atau minyak kelapa. Lentera ini juga bisa
digunakan untuk membuat tinta,dimana diatas api disediakan wadah dari kaleng
yang berisi bahan-bahan untuk membuat mangsi tersebut.
4. Pendidikan
Pada Masa Kolonial Barat
Nusantara merupakan wilayah yang kaya akan
rempah-rempah,dimana pada saat itu komoditi rempah-rempah sangat dibutuhkan di
Eropa,sehingga Eropa melakukan suatu pencarian pusat dari rempah-rempah
tersebut,didorong dengan 3 tujuan utamanya yaitu Gold,Glory dan Gospel.
Akhirnya bangsa barat memasuki kawasan Nusantara pada saat itu,diawali oleh
bangsa Portugis.
A. Portugis
Dalam tahun 1498 Vasco de Gama tiba di India,dan dalam
tahun 1509 kapal-kapal Portugis yang pertama muncul di Bandar Malakka. Akibat
suatu perselisihan maka dalam tahun 1511 Malakka digempur oleh orang-orang
Portugis dan kemudian dijadikan pangkalan dagang mereka.
Dengan didudukinya Malakka oleh orang Portugis itu
maka ditanamlah benih-benih agama Katholik yang pertama didaerah Nusantara.
Dari Malakka ini orang Portugis melanjutkan ke Maluku,dan berhasil mendapatkan
pangkalan di Ternate pada tahun 1522. Dengan pendudukan orang Portugis di
Maluku,sama halnya dengan di Malakka,Portugis melakukan misi penyebaran agama
Katholik. Dengan bantuan St. Franciscus Xaverius maka perluasan pengaruh
Portugis sekaligus agama katholik menyebar bahkan sampai ke kepulauan Nusa
Tenggara dan Sulawesi Utara. Penyebaran agama Kristen ini dibarengi dengan
gerakan sosial,yaitu meningkatkan kesehatan rakyat, menyelenggarakan
pendidikan,dan sebagainya. Penguasa portugis lainnya di Maluku yang bernama
Antonio Galvano,yang mendirikan sekolah Seminary untuk anak-anak terkemuka
Bumiputera. Selain pelajaran Agama,mereka diajarkan juga membaca, menulis, dan
berhitung dan diajarkan pula Bahasa latin.
Pendudukan Portugis di Nusantara bagian timur tidak
bertahan lama,karena pada akhirnya Belanda dapat mengusirnya,dan kemudian
mengambil alih harta kekayaan gereja Katholik,termasuk lembaga pendidikannya,
dan diserahkan kepada misi Zending Protestan.
B. VOC
dan Pemerintah Hindia Belanda
Pada
tahun 1596 Belanda pertama kali mendarat di teluk Banten dibawah pimpinan
Cornelius de Houtman. Kemudian mereka menelusuri ke timur Banten, sehingga
sampai di Jayakarta,dan kemudian dirubah namanya menjadi Batavia,dan pada tahun
1602 di dirikanlah suatu perkumpulan yang disebut dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Sebagai
perusahaan dagang,wajarlah VOC memiliki tujuan komersial,yaitu mencari
kuntungan sebesar-besarnya bagi kepentingan Belanda pada umumnya dan pemegang
saham khususnya. Pada abad ke 17 dan 18 di Negeri Belanda segala kegiatan yang
menyangkut pendidikan dilaksanakan oleh lembaga keagamaan. Pemerintah tidak
ikut campur dalam penyelenggaraannya,sehingga gereja memiliki kebebasan untuk
menyelenggarakan pendidikan. Namun di Indonesia VOC tidak menginginkan Gereja
(lembaga keagamaan) memiliki wewenang yang besar dalam mengatur masyarakat di
daerah-daerah yang mereka kuasai. Sehingga kegiatan Gereja merupakan bagian
dari kegiatan VOC.jadi perluasan agama Kristen Protestan disebarkan oleh
VOC,sesuai dengan intruksi tahun 1617,supaya penyelenggaraan VOC mengembangkan
agama Kristen dan mendirikan sekolah-sekolah untuk membendung agama Katholik.
Adapun
jenis-jenis pendidikan pada masa VOC diantaranya. (1)Pendidikan Dasar,didirikanlah
sekolah dasar pertama yang bernama Batavische
School pada tahun 1617,dan pada 1630 didirikan Burgerschool (sekolah warga negara),Sekolah-sekolah tersebut
bertujuan untuk mendidik budi pekerti. (2)sekolah latin,Bahasa latin pada abad
ke-17 merupakan Bahasa ilmiah di Eropa,sehingga munculah gagasan membuat
sekolah jenis tersebut di Batavia. Sekolah itu dibuka pada tahun 1642,namun
ditutup pada tahun 1656. (3)Seminarium Theologica,pada tahun 1745 VOC
mendirikan sekolah ini untuk mendidik calon-calon pendeta,dimana yang menjadi
gurunya adalah seorang pendeta. (4) Akademi Pelayaran,sekolah ini didirikan
pada tahun 1743 dengan maksud untuk menjadikan calon perwira pelayaran,namun
tahun 1755 sekolah ini ditutup karena terlalu besar biayanya,sehingga
peminatnya sedikit.
Pada akhir abad 18 perusahaan VOC mengalami kebangkrutan
akhirnya VOC dibubarkan pada tahun 1799. Selanjutnya pemerintah Belanda
mengambil-alih kekuasaan. Dalam politik pendidikannya, Belanda tidak
memperlihatkan demokratisasi di dalam pendidikan, karena tidak semua orang diberi kesempatan
mendapatkan pendidikan yang sama.Sistemnya disebut: Three tract system,
yaitu:
a. Pendidikan
untuk golongan bawahan atau rakyat jelata
b. Pendidikan
untuk golongan atas yang disederajatkan dengan Belanda
c. Pendidikan untuk golongan bangsa
Belanda, bangsa Eropa dan bangsa Timur lainnya (Hardiyanti,2011,hlm.6).
Dalam sistem persekolahan masa Hindia Belanda,terdapat tiga
jenjang sekolah,yaitu sekolah rendah, sekolah menengah dan sekolah tinggi.
Jalur sekolah untuk anak Belanda adalah Europese Lagere School (ELS) ke Lycea,
HBS V dan atau HBS III. Dari sekolah Lycea dan HBS V dapat melanjutkan ke
sekolah tinggi (THS,GHS atau RHS). Jalur sekolah bagi anak Belanda ini dapat
juga dimasuki anak Bumiputera dan Tionghoa yang terpilih.
Jalur sekolah untuk Bumiputera adalah HIS dengan lama belajar
tujuh tahun,setelah itu mereka dapat melanjutkan ke MULO,AMS atau ke sekolah
kejuruan Eropa dan Kweekschool. Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya
mereka memilih jalur HCS (Hollandsche Chineesche School) dengan Bahasa
pengantar Belanda. Sekolah untuk Bumiputera rendahan yaitu Sekolah Desa
(Volkschool) dan sekolah kelas II (Tweede Inlandsche School). Dari sekolah ini
mereka dapat melanjutkan ke Schkale School (sekolah peralihan) agar dapat
melanjutkan ke MULO, AMS, dan sekolah tinggi.
Atlas adalah media dan sumber belajar yang penting dalam
proses pembelajaran pada masakolonial hindia-belanda tepatnya pada abad ke
20,yang diperuntukan bagi tingkat MULO dan tingkat kejuruan AMS dan HBS.
Pada tahun 1900an Belanda menerapkan kebijakan atau politik
etis,yang dimana slogannya Edukasi,irigasi dan Imigrasi. Dalam pelaksaan poin
Edukasi,Belanda banyak membuat sekolah-sekolah berorientasi barat. Namun
kebijakan ini banyak menimbulkan kontra dari masyarakat,diantaranya masyarakat
yang memeluk ajaran islam. Maka untuk membendung ajaran agama protestan
ini,maka pada tanggal 18 November 1912 berdiri lembaga pendidikan Bumi Putra
yang bernama Muhammadiyah,K.H Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. Selanjutnya pada
tanggal 13 Juli 1922,R.M Suwardi Suryaningrat
atau kita lebih mengenalnya dengan nama Ki Hajar Dewantara mendirikan
lembaga pendidikan yang bernama TAMAN SISWA,dengan memiliki dasar keyakinan
akan kodrat alam, kemerdekaan, kebangsaan, kebudayaan dan kemanusiaan.adapun
tujuan pelaksaan pendidikan Taman Siswa yaitu untuk mendidik anak agar percaya kepada
kekuatan sendiri tidak menggantungkan diri kepada kekuatan orang lain, dan atas
dasar budaya bangsa sendiri. Adapun tingkat sekolah di Taman Siswa,diantaranya
Taman Indria,Taman Anak, Taman Dewasa, Taman Madya dan Taman Guru. Selanjutnya
berdiri pula lembaga pendidikan INS (Indonesia Nederlandsce school) pada tahun
1926 oleh Mohamad Syafei di Kayutaman Sumatra Barat.
C.
Jepang
Jepang memperkenalkan militerisme
dengan landasan ideal dalam pemerintahannya di Indonesia. Landasan itu ialah
kemakmuran bersama Asia Timur Raya berpusat di Jepang,Manchuria dan China.
Dalam menyelenggarakan pendidikan,semua sekolah harus dipadukan dan
terbuka,serta dimulai dengan sekolah rakyat (Kokumin Gakko) selama 6 tahun,SMP
(Koto Chu Gakko) 3 tahun dan Sekolah Menengah Tinggi (Kogya Semmon Gakko)
selama 3 tahun. Pada masa pendudukan jepang juga didirikan Sekolah Pelayaran
dan Sekolah Pelayaran Tinggi.
Selama masa Jepang ini diskriminasi menurut golongan
penduduk,keturunan, dan agama ditiadakan yang semula diterapkan oleh
pemerintahan Belanda. Pendidikan pada
masa Jepang ini, tujuan pendidikan bukan untuk memajukan
bangsa Indonesia, tetapi mendidik anak-anak untuk dapat menunjang kepentingan perang
Jepang
melawan sekutu.
5.
Pendidikan Pasca Kemerdekaan
sampai Sekarang
Berbicara
pendidikan tidak terlepas dengan kurikulum dimana pada pelaksaannya di
Indonesia banyak mengalami perubahan kurikulum dari awal revolusi sam pai
sekarang. Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan,Menteri
Pendidikan,Pengajaran dan Kebudayaan,Ki Hajar Dewantara (penggagas motto yang
sangat dikenal dan dijadikan motto pendidikan Indonesia yaitu “Tut Wuri
Handayani”) mengeluarkan “intruksi umum” yang menyerukan kepada para guru
supaya membuang jauh-jauh sistem pendidikan colonial dan mengutamakan
patriotisme,secara rinci bunyi intruksi umum tersebut adalah :
a.
Pengibaran “sang merah putih”
setiap hari dihalaman sekolah
b.
Menyanyikan lagu
kebangsaan Indonesia Raya
c.
Menghentikan pengibaran
bendera Jepang dan menghapuskan lagu Kimigayo
d.
Menghapuskan pelajaran Bahasa
Jepang,serta segala upacara yang berasal dari Pemerintah Balatentara Jepang
e.
Memberi semangat kebangsaan
kepada semua murid.
Adapun
pergantian kurikulum sejak tahun 1947 sampai sekarang tahun 2013 sebagai
berikut,tahun 1947 (Rencana Pelajaran),tahun 1952 (Rencana Pelajaran Terurai), Kurikulum 1964 (Rencana Pendidikan Sekolah Dasar), Kurikulum 1968 (Kurikulum Sekolah Dasar),Kurikulum 1973
(Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), tahun 1975 (Kurikulum Sekolah
Dasar), kurikulum 1984, kurikulum 1994, tahun 1997 (Revisi Kurikulum 1994),
tahun 2004 ( Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi), tahun 2006 (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan) dan yang sekarang sedang diaplikasikan yaitu Kurikulum 2013.
Itulah hasil
dari observasi dari museum pendidikan nasional,untuk mengetahui lebih
lanjut,silahkan untuk mengunjungi museum pendidikan nasional. Terimakasih.